Apa itu PISA ?

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah program internasional yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) untuk mengukur kemampuan peserta didik pada rentang usia 15 tahun. Program ini memiliki tiga objek penilaian yaitu literasi sains, literasi matematika, dan membaca. PISA diadakan pertama kali tahun 2000 dan diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dan terdiri atas beberapa Negara peserta, salah satunya yaitu Negara Indonesia.

Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di Negara OECD, dengan maksud untuk survey dan memotret kualitas pendidikan anak-anak usia 15 tahun di Negara OECD yaitu untuk mengetahui keberhasilannya ke ruang lingkup kerja. Anak-anak umur 15 tahun dianggap telah memiliki kemampuan literasi yaitu ia mampu menganalisis, memberi alasan dan mengkomunikasikan pengetahuan dan keterampilan secara efektif, serta mampu memecahkan dan menginterpretasikan permasalahan dalam berbagai situasi.

Penilaian PISA tidak hanya memastikan apakah siswa dapat mendapatkan pengetahuan tetapi penilaian PISA juga memeriksa seberapa baik siswa dapat memperkirakan dari apa mereka telah belajar dan dapat menerapkan pengetahuan itu di lingkungan  baik di dalam maupun di luar sekolah/ PISA merupakan program berkelanjutan yang memantau perubahan dalam pengetahuan dan keterampilan siswa di seluruh dunia.  Terdapat 3 fokus dalam penilaian PISA menurut OECD (2019) antara lain :

  1. Literasi membaca : Kapasitas individu untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merenungkn dan terlibat dengan teks untuk mencapai tujuan seseorang, mengembangkan pengetahuan dan potensi seseorang, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Didefinisikan sebagai kemampuan siswa untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merenungkan dan terlibat dengan teks untuk mencapai tujuan.
  2. Literasi Matematika : Kapasitas individu untuk merumuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Ini termasuk penalaran secara matematis dan penggunaan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena.
  3. Literasi Sains : kemampuan untuk terlibat dengan isu-isu terkait sains, dan dengan ide-ide sains, sebagai warga Negara yang reflektif. Orang yang melek ilmiah bersedia untuk terlibat wacana beralasan tentang sains dan teknologi, yang membutuhkan kompetensi untuk menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi, dan merancang penyelidikan ilmiah dan menafsirkan data dan bukti secara ilmiah. Soal PISA literasi sains dikembangkan berdasarkan tiga konten, ketiga konten tersebut meliputi, sistem fisik, sistem kehidupan, dan sistem ruang dan bumi. Literasi Sains adalah salah satu dari tiga kompetensi inti yang termasuk dalam studi PISA. Ketika literasi sains menjadi fokus pengujian maka literasi matematika dan membaca menjadi pendamping.

Tujuan PISA

Adapun tujuan PISA antara lain sebagai berikut:

  1. Mengetahui kemampuan peserta didik dalam literasi membaca, menghitung dan sains
  2. Menjadi indikator keberhasilan sistem pendidikan dari suatu Negara
  3. Menjadi evaluasi setiap Negara untuk memajukan sistem pendidikan

Bagaimana PISA di Indonesia ?

Indonesia memberikan kesempatan kepada PISA untuk mengevaluasi hasil capaian siswa agar dapat menjadi evaluasi kebijakan pendidikan. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no 35 tahun 2018 merupakan tantangan mengenai keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak mengalami peningkatan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA.      

Hasil pencapaian peserta didik Indonesia pada literasi sains sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2018 belum mengalami kemajuan. Pada tahun 2000, Indonesia berada pada peringkat 38 dari 41. Pada tahun 2003, Indonesia berada pada peringkat 38 dari 40 negara. Pada tahun 2006, Indonesia berada pada peringkat 50 dari 57 negara. Pada tahun 2009, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 65 negara. Dan pada tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara. Pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara serta di tahun 2018 Indonesia berada pada peringkat terakhir dari 69 dari 77 Negara. Data tersebut menjelaskan bahwa hasil pencapaian peserta didik Indonesia pada literasi sains belum mengalami kemajuan bahkan pada tahun 2019 Indonesia menduduki peringkat 8 terendah. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia saat ini sedang mengalami krisis literasi dan ini merupakan permasalahan yang serius. Oleh karena itu seluruh pemangku kepentingan di semua jenjang pendidikan perlu turut berperan dalam peningkatan literasi. Salah satu caranya adalah penguatan tata kerja yaitu guru harus kalaboratif dalam memajukan PISA. Maka dari itu, peran sekolah dan guru sangat dibutuhkan dalam memajukan PISA Indonesia untuk bersaing secara Internasional.

Sumber : Mikhael Dewabrata

Grafik di atas menunjukan pencapaian PISA Negara Indonesia dalam 3 tahun terakhir pada literasi membaca, matematika dan sains. Berdasarkan grafik tersebut pada tahun 2012 Literasi membaca Negara Indonesia mendapatkan skor 396, Literasi Sains mendapatkan skor 382 dan Literasi Matematika mendapatkan skor 375. Pada tahun 2015 Literasi membaca Negara Indonesia mendapatkan skor 397, Literasi Sains mendapatkan skor 403. dan Literasi Matematika mendapatkan skor 386 meningkat dari tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2018 Literasi membaca Negara Indonesia mendapatkan skor 371, Literasi Sains mendapatkan skor 396 dan Literasi Matematika mendapatkan skor 379. Skor PISA tahun 2018 menurun dari tahun 2015.

Skor PISA Dunia tahun 2015

Sumber : Factsmaps.com

Berdasarkan peta diatas, pada tahun 2015 Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 Negara OECD. Indonesia masuk ke dalam kelompok skor di bawah 450 yaitu mendapatkan Skor 395.3. Maka dari itu dapat kita simpulkan pada tahun 2015 Pendidikan Indonesia mengalami kurangnya kemampuan Literasi baik Literasi Sins, Membaca maupun Matematika.

Skor PISA Dunia tahun 2018

Sumber : Factsmaps.com

Berdasarkan peta diatas, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat 71 dari 77 Negara OECD. Indonesia masuk ke dalam kelompok skor di bawah 450 yaitu mendapatkan Skor 382.0. Maka dari itu dapat kita simpulkan bahwa Indonesia mengalami kurangnya kemampuan Literasi baik Literasi Sins, Membaca maupun Matematika dan menurun dari tahun 2015.

Bagaimana PISA mengukur kemampuan siswa ?

Tes PISA berlangsung selama 2 jam dan yang membuat spesial dari tes ini adalah mengukur kemampuan siswa untuk menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari. PISA tidak tertarik terhadap kemampuan siswa dalam menghafalkan materi dalam buku cetak.  Dalam konteks belajar matematika misalnya, literasi ini bermakna bagaimana matematika bisa digunakan atau diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhananya ada sebuah data tentang jumlah pengunjung di suatu perpustakaan dalam waktu satu bulan. Bagi pengelola perpustakaan, data ini menjadi penting untuk menentukan berapa jumlah pegawai yang paling efisien untuk dipekerjakan.

Misalkan di hari Senin sampai Jumat, itu bagaimana data pengunjungnya? Sehingga ketika perpustakaan tidak punya tenaga tetap, dengan data itu dia bisa memprediksi pada hari mana dan jam-jam jumlah pengunjung itu padat. Sehingga dia bisa menentukan secara efisien berapa dia harus mengontrak pekerja yang dibutuhkan.

Dari kasus itu, seorang siswa tidak hanya menerima informasi saja, melainkan juga harus bisa menganalisis sehingga mendapat masukan sebagai bahan pengambilan keputusan dengan informasi tersebut. Ironisnya, di Negara berkembang murid sering untuk menghapal, bukan berpikir nalar.  Ketika akan menghadapi UN misalnya, siswa kebanyakan akan diajarkan untuk menghapal pola pola soal yang akan keluar berdasar pada tahun tahun sebelumnya, bukan untuk menalar soal. Ini salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia menjadi ranking ke 2 terbawah dalam tes PISA 2012.

Sumber : Yunaz Karaman
Scroll to Top